Pariban (2)
Setelah catatanku yg kuposting tempo hari tentang Pariban, seorang menginboxku menanyakan tentang apa dan bagaimana itu sebenarnya Pariban.
"Ito, bisa numpang nanyak?" Katanyalah attong samaku.
Tidak langsung kubalaslah inboxnya, kutelusuri dululah profilenya diam-diam.
Dia boru Batak, sering ngopload Poto pas di Gereja dan cantik 😂, jarang update status, hanya menshare hal2 yg mungkin menurutnya menarik.
Aku lihat-lihat, ternyata dia boru Manalu, secara langsung, taulah, dia adalah paribanku, 😀
"Bisa to, apakah yg mau ditanyai?"
"Pariban itu sebenarnya bagaimana sih? Bisakah Ito jelaskan?"
"Bagaimanalah kubilang ya to, cobalah Ito Cari di Google.." katakulah attong.
"Udah kucari to, tapi kurang paham jg aku to. Apalagi kulihat banyak Kali group2 orang Kita di FB dan WAG buat group Cari pariban, di Instagram juga banyak tentang pariban, bagaimanasih itu pariban? Bebaskah kita milih pariban atau bisakah Kita jadikan orang yg tidak bermarga jadi pariban kita?"
Dalam hatiku, "banyak kalilah pertanyaan orang satu ini!!"
"Gimanalah ya to, bisa minta no Telepon ito, nanti kita telpon atau WA an, biar bisa kujelaskan bagaimana sebenarnya konsep pariban itu.."
"Bisa to, 0********38291"
"Oke to, mauliate, Ito orang Mana?"
""Kalimantan Timur to, Ito?"
"Udah lamakah disana?"
"Lahir disini.."
"Pantaslah, kurang paham tentang Budaya Batak ya.."
"Paham sih paham, kami Selalu diajari Bapak dan Mama Budaya Batak!"
"Iyakah, ya sudahlah, nantilah Ito ku telepon ya..''
"Oke to.."
Kutelusuri sekalilagi profilenya, memastikan dgn baik, masih Muda, kelahiran 1994 juga, sama sepertiku, lulusan kampus swasta di Jawa.
Cocoklah, pikirku dalam hati.
Malamnya kutelpon dia, bergetar juga hatiku saat pertama mendengar suaranya, lembut dan damai, sedamai potonya yg kupandangi siang tadi 😂
Sejenak kami berbasa-basi, membahas hal-hal kecil untuk menghangatkan percakapan, lalu masuk ke hal itu, dengan detail kujelaskan bagaimana defenisi pariban itu, kujelaskan pula kalau kami juga adalah pariban, dia tertawa mendengar bahwa kusampaikan bahwa kami adalah pariban, berkali2 kutegaskan, berkali2 juga dia tertawa, dan aku semakin tidak paham apa arti tawanya itu.
Kami bicara panjang lebar.
Sesudah hari itu aku juga beberapakali mengirim WA sama dia, dia selalu membalas dengan hangat pesan-pesan yg kukirim.
Sampai sore ini, saat aku membuka Facebook ku, kulihat di kabar berita paling atas beranda, sebuah Poto undangan pernikahan.
** Boru Manalu dgn ***
Hahaha, aku tersenyum, antara yakin dengan tidak yakin!
Kubuka profile nya, kucek bagus2 lalu kubatalkan pertemanan, lalu kuposting status ini.
Hahaha, ternyata!
Selang beberapa lama, kulihat jg di status WAnya dipostingnya undangan serupa, Beberapa menit kemudian, dikirimnya juga undangan itu kepadaku!
Kubalaslah dgn kalimat standar, "Selamat ya, semoga berkat!"
Lalu kuhapus nomornya!