Aku membuat catatan ini untuk mengenangna suatu ketika keadaan sudah tidak begini lagi, aku pernah berpikir untuk mencatatkan semua pengalaman dalam hidupku, tetapi yg paling sadis adalah tahun 2015 ini.
Aku ingin menjelaskannya dgn detail agar aku bisa mengingatnya nanti sebagai suatu pelajaran, bukan sebagai dendam.
Maret lalu aku diusir dari kost kosan karena tidak membayar uang kos sesuai perjanjian ini memang murni kesalahanku karena membuat kesepakatan dengan seseorang yg tidak seharusnya kupercaya (saranku jgn pernah percaya dgn siapapun) hingga akhirnya segalanya berakhir jadi bom waktu, aku diusir dgn rentang waktu seminggu aku harus angkat kaki dari situ, aku tidak punya solusi lain dan harus berpikir cepat.
Aku mencoba menghubungi beberapa teman yg kukenal, tetapi belum ada sebuah kepastian, lalu aku mencoba menghubungi tulangku yg tinggal di amplas dan memberitahu aku harus tinggal ditempatnya karena aku sudah harus angkat kaki minggu itu juga.
Tulang mengiyakan hanya saja dia mengingatkan bahwa abangku dan adikku sudah pernah tinggal bersama mereka dan semuanya tidak ada yg bertahan lama, aku disuruhnya bersiap menghadapi kemungkinan terburuk!!
Benar, belum hampir sebulan, aku sudah mulai tidak nyaman, hingga suatu malam, hampir genap dua bulan aku disitu, aku terusir lagi, disuruh secepatnya angkat kaki dari sana, rasanya perasaanku sangat hancur lebur, itu pertamakalinya aku pernah melangkah tanpa tahu arahku akan kemana, aku tidak tahu akan bergerak kemana, kubawa beberapa baju dalam tasku, kumasukkan juga bukuku agar alu bisa kuliah hari senin tanpa kembali kerumah itu, rasanya bagiku rumah itu adalah neraka.
Malam itu aku masih ingat, aku tidur di post satpam didepan sebuah pabrik, karena sangat lelah dan tidak tidur semalaman aku bisa tertidur pulas, aku ingat malam itu malam minggu dan ketika besoknya aku terbangun, sudah pagi dan aku melihat beberapa sms yg masuk, satu dari adikku dan juga dari bapak yg isinya sama bahwa hari itu adikku akan datang dari kampung. Aku memisscall bapak, saat ditelepon kembali kenomorku, aku menangis tersedu-sedu, rasanya itu adalah tangisku kepada bapak dan mama, rasanya saat itu aku tidak bisa berkata apa-apa kepada mereka, aku ingin pulang, berhenti kuliah karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain dirumaj, didepan orangtua.
Tetapi tidal, aku tidak mungkin menyerah begitu saja, aku masih bisa dengar bapak dan mama juga terisak mendengarku menangis sepuasnya.
Terakhir, mereka menyemangatiku dan menyatakan bahwa mereka ada mengirim sedikit uang untukku, aku disuruh menjumpai adikku diloket sampri.
Aku tahu adikku akan sampai sore hari, tetapi jam sembilan pagi aku sudah ada diloket menunggu adikku, kupesan secangkir kopi hitam dan beberapa bungkus roti, aku harus mengisi perutku yg keroncongan.
Aku kembali berpikir, kemana aku akan pergi malam ini?
Aku ingat, ada temanku yg selalu bersedia menampung kawan2, Calvin, ku sms dia, tidak selang berapa la dibalasnya, "Bukan menolak lae, tp kau tahukan cerita minggu lalu, sampai hari akupun masih numpang di kost kawan lae, itupun udah ramekali kami disini, maaf ya lae..."
Aku tersenyum pahit, siapalagi, aku ingat aku punya teman sekampung yg jg pernah jadi kawan satu kostku, aku mencoba mem-ping, mengirim pesan lewat bbm, mengesemea, telepon puluhan kali, tetapi tidak ada jawaban, kadang aku jd berpikir sampai hari ini bahwa benar yg pernah kubaca itu, saat kita terpuruk, hampir tidak ada seorangpun yg kita kenal untuk menolong.
Aku tersenyum pahit, rasanya saat itu waktu seakan tidak berjalan bagiku, sangat berat.
Ketika adikku tiba, dia menawarkan utk kekost kawannya, tetapi aku teringat aku punya seorang teman, boru sinaga (aku akan selalu mengenangnya, bagiku dia adalah ito kandungku, ya..)
Aku telepon dia, dan dengan senang hati dia menyuruhku datang kesana..
(Aku akan melanjutkan cerita ini kapan-kapan, aku masih harus unian besok)
Jumat, 06 November 2015
Ketika masalah hanyalah tentang persoalan untuk bertahan hidup.
Langganan:
Komentar (Atom)