Jumat, 06 November 2015

Ketika masalah hanyalah tentang persoalan untuk bertahan hidup.

Aku membuat catatan ini untuk mengenangna suatu ketika keadaan sudah tidak begini lagi, aku pernah berpikir untuk mencatatkan semua pengalaman dalam hidupku, tetapi yg paling sadis adalah tahun 2015 ini.
Aku ingin menjelaskannya dgn detail agar aku bisa mengingatnya nanti sebagai suatu pelajaran, bukan sebagai dendam.
Maret lalu aku diusir dari kost kosan karena tidak membayar uang kos sesuai perjanjian ini memang murni kesalahanku karena membuat kesepakatan dengan seseorang yg tidak seharusnya kupercaya (saranku jgn pernah percaya dgn siapapun) hingga akhirnya segalanya berakhir jadi bom waktu, aku diusir dgn rentang waktu seminggu aku harus angkat kaki dari situ, aku tidak punya solusi lain dan harus berpikir cepat.
Aku mencoba menghubungi beberapa teman yg kukenal, tetapi belum ada sebuah kepastian, lalu aku mencoba menghubungi tulangku yg tinggal di amplas dan memberitahu aku harus tinggal ditempatnya karena aku sudah harus angkat kaki minggu itu juga.
Tulang mengiyakan hanya saja dia mengingatkan bahwa abangku dan adikku sudah pernah tinggal bersama mereka dan semuanya tidak ada yg bertahan lama, aku disuruhnya bersiap menghadapi kemungkinan terburuk!!
Benar, belum hampir sebulan, aku sudah mulai tidak nyaman, hingga suatu malam, hampir genap dua bulan aku disitu, aku terusir lagi, disuruh secepatnya angkat kaki dari sana, rasanya perasaanku sangat hancur lebur, itu pertamakalinya aku pernah melangkah tanpa tahu arahku akan kemana, aku tidak tahu akan bergerak kemana, kubawa beberapa baju dalam tasku, kumasukkan juga bukuku agar alu bisa kuliah hari senin tanpa kembali kerumah itu, rasanya bagiku rumah itu adalah neraka.
Malam itu aku masih ingat, aku tidur di post satpam didepan sebuah pabrik, karena sangat lelah dan tidak tidur semalaman aku bisa tertidur pulas, aku ingat malam itu malam minggu dan ketika besoknya aku terbangun, sudah pagi dan aku melihat beberapa sms yg masuk, satu dari adikku dan juga dari bapak yg isinya sama bahwa hari itu adikku akan datang dari kampung. Aku memisscall bapak, saat ditelepon kembali kenomorku, aku menangis tersedu-sedu, rasanya itu adalah tangisku kepada bapak dan mama, rasanya saat itu aku tidak bisa berkata apa-apa kepada mereka, aku ingin pulang, berhenti kuliah karena tidak ada yang lebih menyenangkan selain dirumaj, didepan orangtua.
Tetapi tidal, aku tidak mungkin menyerah begitu saja, aku masih bisa dengar bapak dan mama juga terisak mendengarku menangis sepuasnya.
Terakhir, mereka menyemangatiku dan menyatakan bahwa mereka ada mengirim sedikit uang untukku, aku disuruh menjumpai adikku diloket sampri.
Aku tahu adikku akan sampai sore hari,  tetapi jam sembilan pagi aku sudah ada diloket menunggu adikku, kupesan secangkir kopi hitam dan beberapa bungkus roti, aku harus mengisi perutku yg keroncongan.
Aku kembali berpikir, kemana aku akan pergi malam ini?
Aku ingat, ada temanku yg selalu bersedia menampung kawan2, Calvin, ku sms dia, tidak selang berapa la dibalasnya, "Bukan menolak lae, tp kau tahukan cerita minggu lalu, sampai hari akupun masih numpang di kost kawan lae, itupun udah ramekali kami disini, maaf ya lae..."
Aku tersenyum pahit, siapalagi, aku ingat aku punya teman sekampung yg jg pernah jadi kawan satu kostku, aku mencoba mem-ping, mengirim pesan lewat bbm, mengesemea, telepon puluhan kali, tetapi tidak ada jawaban, kadang aku jd berpikir sampai hari ini bahwa benar yg pernah kubaca itu, saat kita terpuruk, hampir tidak ada seorangpun yg kita kenal untuk menolong.
Aku tersenyum pahit, rasanya saat itu waktu seakan tidak berjalan bagiku, sangat berat.
Ketika adikku tiba, dia menawarkan utk kekost kawannya, tetapi aku teringat aku punya seorang teman, boru sinaga (aku akan selalu mengenangnya, bagiku dia adalah ito kandungku, ya..)
Aku telepon dia, dan dengan senang hati dia menyuruhku datang kesana..
(Aku akan melanjutkan cerita ini kapan-kapan, aku masih harus unian besok)

Rabu, 05 Agustus 2015

Fiksimini

Dia menatap jam yang bergerak sesukanya, menghitung hari-hari di kalender yang menempel didinding rumahnya, "Semalam hari Rabu, sekarang Kamis, besok Jumat, besoknya lagi, entahlah.." Ucapnya perlahan.
Apa yang ditunggunya, tidak ada, yang mau dikejar, tidak ada juga.
Dia melangkahkah kakinya menuju sebuah persimpangan, terasa berat melalui hari-hari ini, waktu berganti begitu saja, pagi berganti malam, malam berganti pagi lagi, begitu cepat dan tidak terasa pikirnya dalam hati.
Dipersimpangan tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi, lelaki itu hanya sempat menoleh, sebentar dia merasakan terang yang sangat benderang, tiba-tiba gelap, gelap yang begitu sempurna, sangat cepat, bahkan waktupun tidak dapat menghitungnya!
06082015

Sabtu, 27 Juni 2015

Sebuah Catatan Ulang Tahun

Apa dan bagaimana?
Tidak, ini bukan sebuah pertanyaan apalagi pernyataan, ini hanyalah sebuah tuntutan dan keharusan, koreksi diri, penilaian dan kesiapan.
Siapa yang mau menyalahkan diri?
Terlalu munafik jika aku tidak mau membenarkan diriku sendiri.
Ada kalanya memang, aku harus mengerti mengapa bisa begini atau mengapa harus begitu, ada kalanya harus menyesuaikan diri, ada kalanya juga harus menikmati.
Tidak, bukan artinya aku pasrah untuk segala sesuatunya.
Aku tahu, aku bukan siapa-siapa, karena itulah aku memaksa untuk menjadi sesuatu yg bermakna, jika tidak untuk selamanya, setidaknya aku menyisakan goresan sebagai bukti bahwa aku pernah singgah walaupun untuk sementara.
Ya, aku ingin suatu hari nanti ada orang yang merasa kehilangan jika aku tidak lagi ada. Dan mereka juga punya cerita ttg seorang pria dgn pemikiran yg kompleks tetapi melankolis, itu saja.
Sisanya?
Ya, aku seharusnya yg pertama erterima kasih kepada Tuhan, kepada keluarga dan kepada semuanya, semuanya tanpa terkecuali.
Aku tidak punya apa-apa untuk kutunjukkan dan kubanggakan kepada Kalian!
Yah, setidaknya aku bisa ada diantara kalian, mungkin itu sudah lebih dari cukup yg bisa kuberikan.
Saat ini, saat menulis ini aku baru mendengar sebuah lagu, Trip around the sun.. Mungkin itu utkku, aku menikmatinya!
Karena hidupku hanyalah sebuah fiksi, ya, fiksi, tidak lebih dari itu.
Fiksi yg selalu mencoba lari dari alur yg sesungguhnya, mencoba berpetualang dengan sebebas-bebasnya.
Seandainya suatu waktu, saat itu aku sudah tidak ada, apakah perjalananku sudah menyisakan makna utk kalian, apakah akan ada yg merindukan, yg kehilangan?
Jikalau belum, aku masih gagal di usiaku yg sekarang ini!!!

Kamis, 21 Mei 2015

Planning, if Jesus Say Yes! (Part 1)

Usia sudah mulai beranjak 21 dan rasanya itu bukan hal yg aneh untuk jatuh cinta dan menikmati hubungan berpacaran. Memang sudah bantak sharing tentang konsep Teman Hidup (TH) bahkan sudah banyak kategori dan wanita yg mulai menarik untuk dibawa dalam doa.
Tetapi jika teringat komitmen dan keadaan saat ini yg nyata, masih banyak yg belum bisa diterima.
Yah, temanku pernah berkata ,"Bayangkan Nal, jgnkan utk berpacaran, utk mengurus diri kitapun kita tdk becus, bayangkan jg bahkan kondisi keuangan kita yg pas-pasan, kita butuh pertimbangan yg matang, kita butuh perencanaan bahkan kita butuh perhitungan karena semya tdk seperti yg kita rencanakan."
Cukup bijak, meskipun dia menyatakan hal seperti itu di semester tiga dulu, tetapi aku selalu mempertimbangkannya hingga hari ini, aku bahkan selalu menjadian itu pedoman saat mulai merasakan rasa suka kepada seorang wanita.
Sekali aku pernah mencoba mempertimbangkan utk pacaran jarak jauh yg istilah kerennya anak muda disebut LDR, tetapi pertimbangan demi pertimbangan membuatku tdk jd melanjutkan rencana itu kalau toh hanya utk menghindar dari rasa kesepian dan status jomblo dari dulu saat SMA. Satu hal yg harus kuakui, kadang memang ada rasa iri saat teman-teman sudah punya pacar dan aku sendiri yg sukapun tidak ada.
Kadang aku mencoba mendoakannya agar ada seorang gadis cantik yg entah karena apa bisa suka kepadaku dan bisa menerimaku apa adanya, ya, paling tidak seperti kisah di Novel-novel atau film itu atau setidaknya aku berdoa agar Tuhan menunjukkan yh sesuai kategoriku.
Hanya masalahnya adalah aku memang berdoa utk itu, bahkan aku dgn leluasa dan egois menyuruh Tuhan utk mencarikanku wanita sesuai kategoriku itu sedangkan aku sendiri tdk pernah berusaha menjadi seorang lelaki yg menjadi kategori seorang wanita.
Kenapa?
Karena aku memang egois, aku terlalu memikirkan diriku sendiri tanpa pernah memikirkan orang lain.
Oh ya, aku menulis ini saat selesai membaca buku "Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta" tulisan sekaligus kisahnya Grace Suryani dan Steven Halim.
Aku tau, mungkin kisahnya kurang cocok dgnku, tetapi aku mencoba utk memaknainya dan belajar dari situ karena memang benar dalam hal TH kita cenderung egois dan melupakan kehendak Tuhan, kita membuat kriteria kita sendiri dan ketika semua tdk seperti yg kita harapkan kita akan datang kepada Tuhan dgn berbagai keluhan dan rasa kecewa. Bahkan kita sering melakukan sesuatu yg 'mungkin' membuat Tuhan kecewa yaitu saat melihat seseorang yg menurut kita "pas" utk kita lalu kita mendoakannya agar Tuhan menjadikan dia utk kita.
Hmmm, semoga tulisanku ini bukan seperti sebuah khotbah atau ceramah karena aku sangat takut kalau aku yg belum berpengalaman ttg TH dgn berani memberi pendapat dan saram ttg TH.
Aku menulis ini sebenarnya hanya utk berbagi dan bercerita tentang sebuah rencanaku kalau Tuhan menghendakinya dan aku jg ingin teman-teman yg membaca memberi komentar atau saran tentang hal ini, yah, setidaknya menurut pendapatnya masing-masinglah..
Sebelumnya aku pernah mendoakan keinginanku utk punya pacar, hanya saja aku sendiri entah mengapa bisa ragu akan keinginanku tersebut tetapi aku mencoba utk tetap mendoakan ttg hal itu. Hingga akhirnya aku bisa tau apa sebenarnya yg kuragukan itu, ya, penampilanku yg selalu kurang rapi, kondisi keuanganku yg kuliah dan hidup di kota M ini hanya mengandalkan beasiswa bahkan kelemahan-kelemahan lainnya yg menurutku mencolok. Ya, setidaknya itu menurutku!
Tetapi pertengahan semester lima lalu entah mengapa aku mengenal seorang Juniorku yg diam-diam aku mulai menyimpan rasa suka kepadanya, awalnya sih aku menggunakan modus utk mengajaknya ikut dipersekuan Kampus. Tetapi, yah, itu tidak berhasil, hehehe..
Dan saat modusku itu gagal, aku sudah mencoba utk tdk mengingatnya karena modusku itu hanyalah modus iseng dgn prinsip,  " Siapa tau beruntung".
Tetapi suatu pagi ketika aku dan teman-temanku ada janji dan aku datang kepagian, aku bertemu dgn dia dan mengobrol2 tentang beberapa hal, dan dia meminta nomorku, disini ada satu hal yg unik menurutku karena dulu aku pernah membuka portal akademik mahasiswa baru yg belum diganti passwordnya dan tentu aku mendapatkan identitasnya (kalau aku mengingat ini ada hal yg lucu sekaligus rasa bersalah dalam diriku) dan tentu aku mendapatkan nomor hpnya yg kusimpan dgn Name : NPM nya, dan ketika melihat itu dia cukup heran dan aku sendiri cukup bingung memberi alasan apa.
Sejak saat itu aku tdk pernah mengesemesnya atau menanyakan ttg dia tetapidi twitterku @rinaldei aku membuat beberapa kicauan galau ttg ketidak beranianku menyapanya dan entah mengapa aku sengaja menfavoritkannya.

Aku hanya mencoba mengucapkan selamat Hari Natal dan dia tidak membalas apa-apa, lalu menjelang tahun baru aku kembali mengesemsnya dan kami sempat berbalas sms sekitar sepuluhan sms dan kurasa itu sudah cukup bermakna, entahlah..

Kamis, 14 Mei 2015

Romanticide

Ada yang hilang, tetapi tidak ada yg menangisinya. Rasanya seperti bidak-bidak catur yg berguguran demi mempertahankan kemenangan sebuah hati.
Dimana aku bisa menemukan romantisme lagi?
Distatus-status sosial media yg menandai kekasihnya, poto-poto dgn romantisme yg terpaksa atau masih adakah sisa cinta ditaman-taman kota yg kini berganti jadi cafe-cafe berlampu temaram?
Rasanya romantisme itu hilang disetiap kata-kata yg mereka ucapkan dgn meara, didalam kebersamaan yg selalu berlangsung sementara, dgn sapa basa-basi yg teramat biasa, dgn makan malam yg diganjar dgn tingkat harga dan dgn kata-kata ucapan peduli lewat massenger di layar smartphone.
Mungkinkah aku harus menyusurinya?
Kebersamaan tanpa tujuan rasa yg tidak pernah terungkap dgn kata-kata, lambaian tangan dam senyuman yg selalu menyimpan rasa suka dgn sendirinya.
Kita mengerti, romantisme telah mati karena terpaksa!
Dia harus gugur sebagai pahlawan tanpa nama dalam dunia cinta yg tidak bernisan itu.
Lalu sepatah dua patah doa akan terpanjat untuk romantisme itu, berdoa agar romantisme bereinkarnasi menjadi rasa yg abadi.
Mungkinkah reinkarnasinya seperti kisah-kisah klasik yg tanpa terpaksa menikmati sisa senja atau dgn malu-malu menyampaikan selembar kertas berisi puisi, atau seorang yg sentimentil dgn tulisan-tulisan dibuku hariannya?
Memang ada interval antara satu masa kemasa berikutnya utk sebuah reinkarnasi, tetapi nada-nada lagu patah hati dan jatuh cinta utk yg kesekian kali telah mengisi interval itu. Ketika sepasang remaja sedang menikmati kebersamaannya disebuah meja dgn lampu-lampu temaram, lalu mengabadikan beberapa poto dan setelah itu menpostingnya dimedia sosial dgn hastag yg sangat menarik #Romantic...
Romantisme yg terpaksa membuat romantis itu meninggal dgn sendirinya, lalu dia bereinkarnasi menjadi fiksi-fiksi di cerita pendek, novel dan film-film Korea, lalu aku menulisnya sebagai esai yg tidak bermakna.

Minggu, 18 Januari 2015

Senin Pagi

Apa yang bisa dikatakan pecundang pada dirinya sendiri?
aku tidak tau apakah saat ini aku sedang berada diposisi pecundang atau masih takut berusaha dan ambil resiko.
Ya, itulah faktanya.
Tahukah kau, sebenarnya tidak ada seorang yang melakukan sesuatu hal tanpa mengharapkan apa-apa, yang menyenangkan adalah ketika harapan itu terpenuhi, yang menyedihkan adalah ketika orang itu sendiri memutus harapannya dan yang paling membanggakan adalah saat seseorang terus menerus memperjuangkan harapannya meskipun dia tau harapan itu hampir mustahil terjadi.
Aku angkat topi kepada mereka yang berani memperjuangkan sesuatu meskipun rasanya itu hampir tidak mungkin terjadi, aku juga salut kepada mereka yang terus berusaha untuk membentuk kembali mimpi-mimpinya.
tetapi bagaimana dengan aku?
apa kadang aku juga harus mengingkari diriku sendiri dengan tingkah dan perbuatan yang telah kubuat?
aku tidak tahu, tetapi banyak orang bercermin dari apa yang telah terjadi dengannya, bercermin dari apa yang telah diperbuatnya, ada juga orang yang menghabiskan waktu untuk meratapi kegagalannya tetapi yang paling menyedihkan diantara meraka semua adalah yang tinggal dengan kegagalan itu.
sebenarnya, kali ini akupun tinggal dalam kebimbanganku sendiri. aku tidak tau apakah aku harus tetap melangkah ataupun bertahan dan menyudahi langkahku untuk sesuatu hal.
karena aku kadang ragu, entah aku terlalu berlebihan karena kadang hidup ini bukanlah sandiwara yang perlu dihadapi dengan perasaan, tetapi kadang hidup ini adalah kenyataan yang perlu berlogika. Terlalu buruk rasanya mencocokan hidupmu dengan sebuah novel, tetapi lebih buruk lagi ketika kamu berharap pada kisah-kisah klasik yang hanya terjadi di dunia dongeng. Sebenarnya aku juga sudah terlalu muak dengan pikiran-pikiran tentang bagaimana semua itu mengubah pemikiran, tetapi abangku pernah berkata kita tidak bisa mengingkari semua itu ebab akan ada saatnya itu terjadi pada diri kita. Aku terdiam, sebenarnya itu memang telah terjadi padaku tetapi aku selalu mencoba mengusirnya, aku tidak mau termakan kata-kataku sendiri, terlalu pahit rasanya jika aku harus masuk dalam perangkap-kata yang kupasang sendiri.
Aku kini takut, kepada kata-kata yang sempat kuucapkan, takut pada waktu yang masih terlalu panjang, aku juga takut kepada kenyataan yang membentang. Ya, aku sebenarnya adalah penakut tetapi seseorang pernah berkata bahwa rasa takut itu bisa membentuk sebuah keberanian yang kuat dalam dirimu. Ya, rasa takut yang bisa dikendalikan adalah sebuah kekuatan.
Aku akan belajar memahaminya, belajar mengendalikannya sebab bagiku setiap waktu itu adalah kesempatan yang menjadi musuh untuk ditaklukkan.
Aku akan menyediakan waktuku meskipun akau tahu hanya sedikit yang bsa diharapkan.
Sekarang terserah anda, menilai aku pejuang atau pecundang.