Kamis, 14 Mei 2015

Romanticide

Ada yang hilang, tetapi tidak ada yg menangisinya. Rasanya seperti bidak-bidak catur yg berguguran demi mempertahankan kemenangan sebuah hati.
Dimana aku bisa menemukan romantisme lagi?
Distatus-status sosial media yg menandai kekasihnya, poto-poto dgn romantisme yg terpaksa atau masih adakah sisa cinta ditaman-taman kota yg kini berganti jadi cafe-cafe berlampu temaram?
Rasanya romantisme itu hilang disetiap kata-kata yg mereka ucapkan dgn meara, didalam kebersamaan yg selalu berlangsung sementara, dgn sapa basa-basi yg teramat biasa, dgn makan malam yg diganjar dgn tingkat harga dan dgn kata-kata ucapan peduli lewat massenger di layar smartphone.
Mungkinkah aku harus menyusurinya?
Kebersamaan tanpa tujuan rasa yg tidak pernah terungkap dgn kata-kata, lambaian tangan dam senyuman yg selalu menyimpan rasa suka dgn sendirinya.
Kita mengerti, romantisme telah mati karena terpaksa!
Dia harus gugur sebagai pahlawan tanpa nama dalam dunia cinta yg tidak bernisan itu.
Lalu sepatah dua patah doa akan terpanjat untuk romantisme itu, berdoa agar romantisme bereinkarnasi menjadi rasa yg abadi.
Mungkinkah reinkarnasinya seperti kisah-kisah klasik yg tanpa terpaksa menikmati sisa senja atau dgn malu-malu menyampaikan selembar kertas berisi puisi, atau seorang yg sentimentil dgn tulisan-tulisan dibuku hariannya?
Memang ada interval antara satu masa kemasa berikutnya utk sebuah reinkarnasi, tetapi nada-nada lagu patah hati dan jatuh cinta utk yg kesekian kali telah mengisi interval itu. Ketika sepasang remaja sedang menikmati kebersamaannya disebuah meja dgn lampu-lampu temaram, lalu mengabadikan beberapa poto dan setelah itu menpostingnya dimedia sosial dgn hastag yg sangat menarik #Romantic...
Romantisme yg terpaksa membuat romantis itu meninggal dgn sendirinya, lalu dia bereinkarnasi menjadi fiksi-fiksi di cerita pendek, novel dan film-film Korea, lalu aku menulisnya sebagai esai yg tidak bermakna.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar