Kamis, 21 Mei 2015

Planning, if Jesus Say Yes! (Part 1)

Usia sudah mulai beranjak 21 dan rasanya itu bukan hal yg aneh untuk jatuh cinta dan menikmati hubungan berpacaran. Memang sudah bantak sharing tentang konsep Teman Hidup (TH) bahkan sudah banyak kategori dan wanita yg mulai menarik untuk dibawa dalam doa.
Tetapi jika teringat komitmen dan keadaan saat ini yg nyata, masih banyak yg belum bisa diterima.
Yah, temanku pernah berkata ,"Bayangkan Nal, jgnkan utk berpacaran, utk mengurus diri kitapun kita tdk becus, bayangkan jg bahkan kondisi keuangan kita yg pas-pasan, kita butuh pertimbangan yg matang, kita butuh perencanaan bahkan kita butuh perhitungan karena semya tdk seperti yg kita rencanakan."
Cukup bijak, meskipun dia menyatakan hal seperti itu di semester tiga dulu, tetapi aku selalu mempertimbangkannya hingga hari ini, aku bahkan selalu menjadian itu pedoman saat mulai merasakan rasa suka kepada seorang wanita.
Sekali aku pernah mencoba mempertimbangkan utk pacaran jarak jauh yg istilah kerennya anak muda disebut LDR, tetapi pertimbangan demi pertimbangan membuatku tdk jd melanjutkan rencana itu kalau toh hanya utk menghindar dari rasa kesepian dan status jomblo dari dulu saat SMA. Satu hal yg harus kuakui, kadang memang ada rasa iri saat teman-teman sudah punya pacar dan aku sendiri yg sukapun tidak ada.
Kadang aku mencoba mendoakannya agar ada seorang gadis cantik yg entah karena apa bisa suka kepadaku dan bisa menerimaku apa adanya, ya, paling tidak seperti kisah di Novel-novel atau film itu atau setidaknya aku berdoa agar Tuhan menunjukkan yh sesuai kategoriku.
Hanya masalahnya adalah aku memang berdoa utk itu, bahkan aku dgn leluasa dan egois menyuruh Tuhan utk mencarikanku wanita sesuai kategoriku itu sedangkan aku sendiri tdk pernah berusaha menjadi seorang lelaki yg menjadi kategori seorang wanita.
Kenapa?
Karena aku memang egois, aku terlalu memikirkan diriku sendiri tanpa pernah memikirkan orang lain.
Oh ya, aku menulis ini saat selesai membaca buku "Tuhan Masih Menulis Cerita Cinta" tulisan sekaligus kisahnya Grace Suryani dan Steven Halim.
Aku tau, mungkin kisahnya kurang cocok dgnku, tetapi aku mencoba utk memaknainya dan belajar dari situ karena memang benar dalam hal TH kita cenderung egois dan melupakan kehendak Tuhan, kita membuat kriteria kita sendiri dan ketika semua tdk seperti yg kita harapkan kita akan datang kepada Tuhan dgn berbagai keluhan dan rasa kecewa. Bahkan kita sering melakukan sesuatu yg 'mungkin' membuat Tuhan kecewa yaitu saat melihat seseorang yg menurut kita "pas" utk kita lalu kita mendoakannya agar Tuhan menjadikan dia utk kita.
Hmmm, semoga tulisanku ini bukan seperti sebuah khotbah atau ceramah karena aku sangat takut kalau aku yg belum berpengalaman ttg TH dgn berani memberi pendapat dan saram ttg TH.
Aku menulis ini sebenarnya hanya utk berbagi dan bercerita tentang sebuah rencanaku kalau Tuhan menghendakinya dan aku jg ingin teman-teman yg membaca memberi komentar atau saran tentang hal ini, yah, setidaknya menurut pendapatnya masing-masinglah..
Sebelumnya aku pernah mendoakan keinginanku utk punya pacar, hanya saja aku sendiri entah mengapa bisa ragu akan keinginanku tersebut tetapi aku mencoba utk tetap mendoakan ttg hal itu. Hingga akhirnya aku bisa tau apa sebenarnya yg kuragukan itu, ya, penampilanku yg selalu kurang rapi, kondisi keuanganku yg kuliah dan hidup di kota M ini hanya mengandalkan beasiswa bahkan kelemahan-kelemahan lainnya yg menurutku mencolok. Ya, setidaknya itu menurutku!
Tetapi pertengahan semester lima lalu entah mengapa aku mengenal seorang Juniorku yg diam-diam aku mulai menyimpan rasa suka kepadanya, awalnya sih aku menggunakan modus utk mengajaknya ikut dipersekuan Kampus. Tetapi, yah, itu tidak berhasil, hehehe..
Dan saat modusku itu gagal, aku sudah mencoba utk tdk mengingatnya karena modusku itu hanyalah modus iseng dgn prinsip,  " Siapa tau beruntung".
Tetapi suatu pagi ketika aku dan teman-temanku ada janji dan aku datang kepagian, aku bertemu dgn dia dan mengobrol2 tentang beberapa hal, dan dia meminta nomorku, disini ada satu hal yg unik menurutku karena dulu aku pernah membuka portal akademik mahasiswa baru yg belum diganti passwordnya dan tentu aku mendapatkan identitasnya (kalau aku mengingat ini ada hal yg lucu sekaligus rasa bersalah dalam diriku) dan tentu aku mendapatkan nomor hpnya yg kusimpan dgn Name : NPM nya, dan ketika melihat itu dia cukup heran dan aku sendiri cukup bingung memberi alasan apa.
Sejak saat itu aku tdk pernah mengesemesnya atau menanyakan ttg dia tetapidi twitterku @rinaldei aku membuat beberapa kicauan galau ttg ketidak beranianku menyapanya dan entah mengapa aku sengaja menfavoritkannya.

Aku hanya mencoba mengucapkan selamat Hari Natal dan dia tidak membalas apa-apa, lalu menjelang tahun baru aku kembali mengesemsnya dan kami sempat berbalas sms sekitar sepuluhan sms dan kurasa itu sudah cukup bermakna, entahlah..

Kamis, 14 Mei 2015

Romanticide

Ada yang hilang, tetapi tidak ada yg menangisinya. Rasanya seperti bidak-bidak catur yg berguguran demi mempertahankan kemenangan sebuah hati.
Dimana aku bisa menemukan romantisme lagi?
Distatus-status sosial media yg menandai kekasihnya, poto-poto dgn romantisme yg terpaksa atau masih adakah sisa cinta ditaman-taman kota yg kini berganti jadi cafe-cafe berlampu temaram?
Rasanya romantisme itu hilang disetiap kata-kata yg mereka ucapkan dgn meara, didalam kebersamaan yg selalu berlangsung sementara, dgn sapa basa-basi yg teramat biasa, dgn makan malam yg diganjar dgn tingkat harga dan dgn kata-kata ucapan peduli lewat massenger di layar smartphone.
Mungkinkah aku harus menyusurinya?
Kebersamaan tanpa tujuan rasa yg tidak pernah terungkap dgn kata-kata, lambaian tangan dam senyuman yg selalu menyimpan rasa suka dgn sendirinya.
Kita mengerti, romantisme telah mati karena terpaksa!
Dia harus gugur sebagai pahlawan tanpa nama dalam dunia cinta yg tidak bernisan itu.
Lalu sepatah dua patah doa akan terpanjat untuk romantisme itu, berdoa agar romantisme bereinkarnasi menjadi rasa yg abadi.
Mungkinkah reinkarnasinya seperti kisah-kisah klasik yg tanpa terpaksa menikmati sisa senja atau dgn malu-malu menyampaikan selembar kertas berisi puisi, atau seorang yg sentimentil dgn tulisan-tulisan dibuku hariannya?
Memang ada interval antara satu masa kemasa berikutnya utk sebuah reinkarnasi, tetapi nada-nada lagu patah hati dan jatuh cinta utk yg kesekian kali telah mengisi interval itu. Ketika sepasang remaja sedang menikmati kebersamaannya disebuah meja dgn lampu-lampu temaram, lalu mengabadikan beberapa poto dan setelah itu menpostingnya dimedia sosial dgn hastag yg sangat menarik #Romantic...
Romantisme yg terpaksa membuat romantis itu meninggal dgn sendirinya, lalu dia bereinkarnasi menjadi fiksi-fiksi di cerita pendek, novel dan film-film Korea, lalu aku menulisnya sebagai esai yg tidak bermakna.